Penjelasan Seputar Benarkah Vaksin Sebabkan Bayi Autis? Berikut Manfaat dan Efek Sampingnya

 

Ilustrasi, sumber foto: Istimewa


Glx Games - Seperti diketahui, ada berbagai manfaat imunisasi untuk bayi. Imunisasi membantu bayi menciptakan sistem kekebalan tubuh agar tidak terkena penyakit yang tidak diinginkan di kemudian hari. Manfaat imunisasi bayi akan terasa ketika virus penyebab penyakit menyerang. Dengan begitu, imunisasi mencegah gejala serius terjadi pada anak.


Namun, di tengah informasi tentang manfaat imunisasi bagi bayi, banyak bermunculan hoax yang meresahkan. Rumor beredar bahwa efek samping vaksin bisa memicu autisme pada anak. Pertanyaannya, benarkah fakta medis seperti itu? Nah, agar tidak tersesat dengan berita hoax, yuk simak penjelasan tentang vaksin dan efek samping yang bisa menyertainya.


1. Vaksin Hepatitis B


Vaksin hepatitis B diberikan setelah pemberian vitamin K setelah lahir. Gunanya untuk mencegah pendarahan akibat kekurangan vitamin K. Vaksin hepatitis B dapat diberikan kembali saat Si Kecil berusia satu bulan dan dalam rentang usia 3-6 bulan. Biasanya efek samping dari vaksin hepatitis B adalah gatal-gatal, pembengkakan pada wajah, atau kemerahan pada kulit.


2. Vaksin BCG


Inti dari vaksin BCG untuk bayi adalah untuk mencegah penyakit TBC atau yang dikenal dengan istilah TBC. Vaksin BCG hanya diberikan satu kali, yaitu saat bayi baru lahir hingga berusia dua bulan. Efek samping dari vaksin ini dapat menyebabkan borok di tempat suntikan. Biasanya muncul 2-6 minggu setelah injeksi BCG.


3. Vaksin Polio


Vaksin polio oral (OPV-0) biasanya diberikan saat lahir. atau saat bayi berusia dua, empat, dan enam bulan. Vaksin ini dapat diberikan kembali ketika anak berusia satu setengah tahun dan terakhir pada usia lima tahun. Vaksin polio dapat diberikan dalam bentuk OPV melalui mulut atau IPV yang diberikan melalui suntikan ke otot. Efek samping dari vaksin ini dapat menyebabkan demam dan kehilangan nafsu makan.


4. Vaksin DTP


Vaksin DTP adalah jenis vaksin kombinasi untuk mencegah difteri, tetanus, dan pertusis atau batuk rejan. Vaksin DTP diberikan lima kali. Itu diberikan pada usia dua bulan, empat bulan, enam bulan, satu setengah tahun, dan lima tahun. Efek samping dari vaksin DTP dapat termasuk demam, nyeri, peradangan, dan mual.


Kembali ke pertanyaan di awal kalimat, benarkah vaksin bisa memicu autisme pada anak?


Vaksin Penyebab Anak Autis, Benarkah?


Pernahkah Anda mendengar desas-desus bahwa vaksin dapat menyebabkan autisme? Jika demikian, apakah Anda percaya dengan argumen ini? Flashback ke tahun 2000. Saat itu campak sudah dieliminasi di Amerika Serikat (AS). Namun, orang yang tidak divaksinasi dan bepergian ke negara lain (di mana terdapat banyak kasus campak), kembali ke AS dengan virus ini. Hal inilah yang menyebabkan wabah campak muncul kembali.


Sayangnya, beberapa orang tua di AS, tidak mengizinkan anak-anak mereka divaksinasi. Pasalnya, kekhawatiran tak berdasar soal vaksin MMR yang melindungi tubuh dari penyakit campak, gondongan, dan rubella. Ia mengatakan vaksin ini dapat menyebabkan autisme pada anak.


Faktanya, menurut para ahli di National Institutes of Health (NIH), sebuah penelitian besar terhadap ribuan anak tidak menemukan hubungan antara vaksin apa pun dan autisme. Singkatnya, organisasi kesehatan besar di Amerika Serikat, Inggris dan di tempat lain mengatakan tidak ada hubungan antara vaksin MMR dan autisme.


Menurut Ahli di NIH, studi pertama yang mengatakan vaksin dapat meningkatkan risiko autisme telah terbukti palsu. Bahkan, dokter yang menulis penelitian itu dilarang berpraktik di negara asalnya, Inggris.


Masih tidak percaya? Hal tersebut pernah ditegaskan Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dalam “Hoax Imunisasi Masih Beredar” di laman Negeriku Sehat (1 Mei 2019) milik Kementerian Kesehatan RI. Ia mengatakan, imunisasi bisa menyebabkan autisme adalah hoax.


Jadwal Imunisasi Bayi Menurut IDAI


Imunisasi perlu segera diberikan kepada bayi baru lahir. Kemudian, pemberian vaksin dilanjutkan sesuai jadwal yang tersedia. Imunisasi pada 6 bulan pertama usia anak disebut imunisasi wajib. Artinya, bayi harus mendapatkan vaksin jenis ini untuk membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuhnya dan menghindari risiko penularan penyakit.


Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), pemberian vaksin atau imunisasi itu penting, terutama bagi anak-anak. Vaksin disebut sebagai alat atau produk yang dapat menghasilkan kekebalan terhadap penyakit tertentu. IDAI telah memperbarui jadwal imunisasi bayi pada tahun 2021. Berikut panduan singkat rekomendasi imunisasi untuk bayi usia 0–18 bulan dari IDAI:


  • Bayi baru lahir, yaitu bayi berusia kurang dari 24 jam disarankan untuk segera mendapatkan imunisasi hepatitis B (HB-1) dan polio 0.

  • Pada bayi usia 1 bulan, vaksinasi yang bisa diberikan adalah polio 0 dan BCG.

  • Selanjutnya, imunisasi diberikan pada saat bayi berusia 2 bulan. Di usia ini, penting untuk memberikan vaksin DP-HiB 1, polio 1, hepatitis 2, rotavirus, PCV.

  • Memasuki usia 3 bulan, imunisasi yang bisa diberikan pada anak adalah DPT-HiB 2, polio 2, dan hepatitis 3.

  • Di umur 4 bulan, ibu bisa membawa Si Kecil untuk mendapatkan imunisasi DPT-HiB 3, Polio 3 (IPV atau polio suntik), hepatitis 4, dan rotavirus 2.

  • Jadwal imunisasi selanjutnya adalah saat bayi berusia 6 bulan. Pada saat ini, bayi bisa diberikan vaksin PCV 3, influenza 1, serta rotavirus 3 (pentavalen).

  • Memasuki usia 9 bulan, Si Kecil disarankan untuk mendapat vaksin campak atau MR. Pemberian vaksin ulang atau booster dilakukan saat anak berusia 18 bulan.

  • Pada usia 18 bulan, bayi juga perlu mendapatkan suntikan penguat atau booster vaksin hepatitis B, polio, DTP, dan HiB.

Post a Comment

0 Comments